Dr Johny Salam Dalam Kenangan

Dr Johny Salam
Dr Johny Salam semasa hidupnya. / Ist

Saya masih mahasiswa muda yang penuh rasa kagum sekaligus segan. Saat itu, kesan pertama yang tertangkap adalah sosok yang tampak sangar. Wajahnya tegas, tatapannya tajam, suaranya berat serak dan mantap penuh wibawa.

Namun seiring waktu, kesan itu pelan-pelan runtuh. Di balik ketegasan yang tampak di permukaan, ternyata tersembunyi hati yang lembut, sebening embun pagi yang menetes perlahan.

Ia bisa menegur dengan keras, tetapi sesudahnya menenangkan dengan penuh kasih. Ia bisa menolak dengan tegas, namun kemudian menjelaskan dengan sabar.

Baca Juga:  Anggota DPRD Sulteng Hadiri Acara Wisuda di Untad

Dari beliau saya belajar bahwa ketegasan bukanlah kekerasan hati. Ketegasan adalah cara menjaga agar nilai-nilai luhur tidak hilang dari ingatan. Seorang guru sejati, sebagaimana beliau, adalah perpaduan antara disiplin dan welas asih.

Pertemuan terakhir kami masih jelas dalam ingatan. Beberapa bulan lalu, kami makan malam bersama di sebuah restoran Padang di kawasan Jakarta Pusat. Ada Beliau, Pak Dr Ridwan, Isteri Almarhum dan kak Muhammad Rizal.  Setelah itu, kami, saya bersama Pak Dr Johny, Pak Dr Ridwan Tahir dan Kak Rizal, melanjutkan perbincangan panjang di sebuah kafe hotel hingga lebih 5 jam lamanya.

Baca Juga:  Ketua DPRD Palu Meninggal Dunia Diduga Akibat Serangan Jantung

Percakapan malam itu penuh kehangatan. Kami berbicara tentang banyak hal, mulai dari keberanian menegakkan integritas, perjalanan akademik, dunia hukum yang penuh intrik, hingga kisah-kisah ringan yang sarat makna. Termasuk cerita lucu saat beliau sedang menempuh S3 bersama Dr Ridwan Tahir.

Di momen itu, saya melihat beliau bukan hanya sebagai akademisi, melainkan juga sebagai sahabat, seorang manusia yang rendah hati, penuh humor, sekaligus penuh empati.

Baca Juga:  Puluhan Wisudawan Untad Protes karena Nama Tak Disebut

Beberapa waktu kemudian, kami sempat bertemu sebentar sekaligus ngopi di Makareem Café, tepat di depan Rumah Sakit Anutapura.

Siapa sangka, rumah sakit itu kelak menjadi tempat beliau menghembuskan napas terakhir. Ada rasa getir yang sulit diungkapkan. Pertemuan singkat di depan rumah sakit itu ternyata menjadi perjumpaan yang terakhir.

Dapatkan Update Berita Terbaru di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *