Selain melalui batuan sampel. Pengunjung juga akan melihat animasi proses geologi terbentuknya pulau Sulawesi dan Danau Poso.
Museum ini hadir lewat kolaborasi Tim Geologi Jelajah Geopark dengan para geolog dari Universitas Tadulako.
Selain itu ada juga mini museum biota akuatik danau Poso yang memperkenalkan keanekaragaman biota endemik Danau Poso dalam bentuk museum mini biota Poso.
Kehadiran mini museum ini mendorong dunia pendidikan untuk menjadikan biota endemik Danau Poso sebagai bagian dari kurikulum pendidikan; mendorong kesadaran masyarakat untuk menjaga biota endemik Danau Poso.
Yang tidak kalah menarik, di festival ada galeri Kupu-Kupu. Pengunjung bisa melihat aneka ragam kupu-kupu endemic yang hanya ada diwilayah ini. Bagaimana proses perkembangannya, mulai dari ulat hingga berubah menjadi kupu-kupu seperti yang kita lihat saat ini.
Di galeri ini, para pengunjung, dapat mengenal, menikmati keindahan dan mendapatkan pengetahuan tentang peran penting kupu-kupu bagi kelangsungan seluruh mahluk.
Di sekitar lokasi festival, pengunjung bisa menjumpai karya visual yang penuh makna dari pengalaman batin pelukis yakni Lampurio dan beberapa seniman lainnya yang turut berkolaborasi.
Setiap bentuk, warna, dan garis adalah ingatan visual atas jejak-jejak yang dimaknainya pada lanskap alam yang menyimpan pesona, kekayaan budaya, sejarah, dan legenda yang mengajarkan kearifan serta keselarasan hubungan antar manusia, alam an sang pencipta.
Buat mereka yang ingin menjelajahi koleksi buku dari anak, remaja ada Taman Baca yang menyediakan puluhan buku akan membawa pembaca pengunjung Festival Mosintuwu menelusuri konteks ruang dan waktu, masa lalu hingga masa depan , bertemu ragam karakter yang unik dalam serangkaian cerita yang mengeksplorasi imajinasi tentang siapa dan bagaimana kita dalam masa yang sedang bergulir .



















