“Keadaan itu sangat memprihatinkan bagi masa depan bahasa-bahasa daerah di Sulawesi Tengah,” kata Asrif.
Karena keadaan vitalitas (daya hidup) bahasa daerah di Sulawesi Tengah yang semuanya mengalami kemunduran, dan beberapa di antara cukup memprihatinkan, maka Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa melaksanakan revitalisasi bahasa daerah melalui program Merdeka Belajar episode ke-13: Revitalisasi Bahasa Daerah.
Program itu dikerja samakan dengan lima pemerintah daerah yakni Pemkot Palu, Pemkab Donggala, Pemkab Poso, Pemkab Banggai, dan Pemkab Banggai Kepulauan.
Sementara Festival Tunas Bahasa Ibu tahun 2023 ini, merupakan salah satu rangkaian pelaksanaan program itu.
Program ini merupakan salah satu dari tiga program unggulan Badan Bahasa, yang dua lainnya ialah Literasi Kebahasaan dan Kesastraan dan juga Internasionalisasi Bahasa Indonesia.
Adapun program ini telah berjalan sejak April 2023 yang dimulai dengan rapat koordinasi dengan lima kabupaten/kota yang telah bekerja sama.
Sementara itu, puluhan peserta FTBI mulai berlomba pada Senin malam hingga, mereka didampingi oleh sejumlah guru pendamping dan perwakilan dari dinas masing-masing. Keluarga, kerabat, dan rekan mereka juga turut hadir mengantar hingga ke Kota Palu untuk turut menyaksikan festival tunas bahasa ibu ini.
“Peristiwa malam ini hingga beberapa hari ke depan merupakan peristiwa bersejarah bagi pelestarian bahasa daerah di Sulawesi Tengah. Ini kali pertama dilaksanakan revitalisasi secara serentak di lima kabupaten, juga FTBI dengan menyertakan lima bahasa daerah. Tentu saja, festival ini bukan tujuan utama, tetapi pembiasaan atau berkelanjutannya bahasa daerah pada anak-anak muda menjadi tujuan utama pelaksanaan RBD ini,” jelas Kepala Balai Bahasa Asrif.



















