ReferensiA.id- Ketua Harian Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ahmad Ali, menegaskan arah baru perjuangan partai pada saat memberikan pengarahan di sesi Rakernas PSI di Makssar, 29 Januari 2026. Dia menargetkan harmonisasi antara semangat nasionalisme progresif PSI dengan nilai-nilai religiusitas.
Langkah ini dinilai sebagai tugas besar dan strategis Ahmad Ali yang dikenal memiliki kepiawaian dalam merangkul basis massa akar rumput dan kalangan agamawan, guna memperluas akseptabilitas PSI di tengah basis pemilih Muslim Indonesia.
Dalam pengarahannya di hadapan seluruh kader dan pengurus se-Indonesia, Ahmad Ali menekankan pentingnya “keseimbangan batin” dalam berpolitik. Ia menginstruksikan agar seluruh kader PSI tidak berjarak dengan realitas sosial-keagamaan di daerah masing-masing.
Menyadari adanya persepsi jarak antara PSI dan kelompok religius selama ini, Ahmad Ali mewajibkan kader yang kembali ke daerah untuk secara aktif bersilaturahmi dengan tokoh agama.
“Saya berpesan, ketika saudara-saudara pulang kembali ke daerah asal, jangan pernah menjauhi tokoh-tokoh agama. Jangan pernah menjauhi pondok pesantren. Ketika kalian lelah, ketika kalian capek, datanglah ke pondok pesantren, datanglah ke sekolah-sekolah agama untuk belajar dan menimba ilmu,” ujar Ahmad Ali.
Instruksi ini dimaknai sebagai langkah konkret Ahmad Ali untuk memastikan PSI tidak hanya dikenal sebagai partai anak muda yang logis, tetapi juga partai yang memiliki kesantunan dan penghormatan tinggi terhadap ulama.
Poin krusial dalam arahan Ahmad Ali adalah larangan keras menjadikan tokoh agama sekadar “vote getter” atau alat pendulang suara semata. Ia menekankan hubungan yang tulus antara kader PSI dan para kiai.
“Ketika ada permasalahan yang kalian belum pahami, datanglah bertanya kepada ulama, kepada kiai. Jadikanlah mereka sebagai guru-guru kalian, tapi jangan jadikan mereka sebagai alat politik untuk memenangkan Partai Solidaritas Indonesia,” tegasnya.


















