Informasi tentang masa lalu bisa diketahui salah satunya melalui arsip. Boleh jadi saat ini arsip tidak terpikirkan, tapi akan menjadi penting di masa mendatang.
Karena itu, Imam Gunarto mengajak pemerintah dan masyarakat di daerah ini agar menyelamatkan arsip kebencanaan.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Tengah diminta selamatkan arsip kebencanaan dengan bahu membahu bersama dinas terkait. Bukan hanya bencana gempa, tsunami dan likuefaksi, tapi juga arsip Covid-19.
Imam Gunarto juga mengungkapkan, Aceh yang pernah dilanda tsunami tahun 2004 kini memiliki Pusat Studi Arsip Kebencanaan Tsunami. Pusat studi itu terkoneksi dengan Jepang, Perancis, Italia, dan beberapa negara yang memiliki pusat studi kebencanaan.
“Palu, NTB dan Jogjakarta bagian dari simpul jarigan (studi) kebencanaan yang pusatnya di Aceh,” ujarnya.
Gubernur Sulawesi Tengah, Rusdy Mastura mengakui pentingnya masyarakat di daerah ini memiliki kapasitas literasi kebencanaan.
Peristiwa bencana di masa lalu perlu diketahui masyarakat yang hidup di atas patahan Palu Koro.
Dia bercerita, semasa menjabat wali kota Palu, pernah diutus oleh Unesco untuk mempresentasikan makalah tentang sesar Palu Koro.
Meski informasi itu penting, tapi kurang bergaung karena kapasitasnya saat itu masih sebagai wali kota.
“Sayalah yang diutus Unesco membawa makalah di Mumbai. Tiga wali kota bicara. Tiga sesar paling kejam di dunia, Sesar Palu Koro, Wellington di Selandia Baru dan Sesar San Andreas yang melewati California,” kata Rusdy Mastura saat menyampaikan kata sambutan pada kegiatan itu.
Rusdy Mastura juga mendengar cerita dari orang tua tentang peristiwa bencana alam yang pernah terjadi di masa lalu di daerah ini.
Menurutnya, gempa besar pernah terjadi pada tahun 1927. Tapi, gempa pada 2018 lebih dahsyat.



















