Wagub berharap Rakorwil ini bukan hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga menghasilkan rekomendasi konkret yang dapat segera diimplementasikan, menjadikan Sulawesi Tengah sebagai pusat industri yang kompetitif di Indonesia.
Pada kesempatan itu, Wagub menegaskan Sulawesi Tengah (Sulteng) terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, menjadi salah satu pilar utama dalam perkembangan ekonomi kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua).
Dia memaparkan data terbaru tahun 2024, Sulteng berkontribusi sekitar 17,08% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulampua, menjadikannya sebagai kontributor terbesar kedua setelah Sulawesi Selatan.
Lanjut Wagub, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah tercatat sangat signifikan dengan laju pertumbuhan mencapai 9,89% (YoY) pada tahun 2024, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya sebesar 5,03% (YoY).
Salah satu sektor yang berperan besar dalam pencapaian ini adalah sektor industri pengolahan, yang mencatatkan kontribusi lebih dari 39,89% terhadap PDRB Sulteng.
Lonjakan ekspor komoditas besi baja dan nikel yang mencapai lebih dari US$ 16.799,49 juta per tahun 2024 menjadi faktor utama dalam mencatatkan angka ekspor yang mencapai sekitar 78,74% dari total ekspor.
Namun, meski sektor industri pengolahan menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam hal nilai ekonomi, tantangan tetap ada.
Salah satunya adalah tingginya ketergantungan terhadap sektor pertanian (44,56%) dan perdagangan (12,71%). Sementara sektor industri hanya menyerap 10,66% dari total angkatan kerja.
Oleh karena itu, kata Wagub Sulteng penting untuk mengembangkan sektor industri lebih lanjut guna menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan serta mengurangi ketergantungan pada sektor tradisional.



















