Tapi, kegagalan itu tak membuat Persipal putus asa. Pada musim tahun 2007, Persipal mendatangkan sejumlah pemain asing. Namun, masih saja sulit menembus ketatnya persaingan menuju divisi utama.
Kemudian di kom¬petisi 2014 lalu, Persipal han¬ya mampu lolos ke babak 12 besar Liga Nusantara. Prestasi Persipal pun kian meredup. Sementara publik Kota Palu menantikan klub kebanggannya ini kembali bersinar.

Setelah sekian lama namanya tenggelam dalam dunia sepak bola Tanah Air, Persipal muncul lagi ke permukaan. Di bawah sang pelatih Yusuf Mardani, Persipal tampil percaya diri di Liga 3 PSSI Rayon Sulteng. Mohamad Syarif, dkk berhasil keluar sebagai juara Liga 3 PSSI Rayon Sulteng.
Kini Persipal berkesempatan kembali berkiprah di level nasional. Bertemu dengan wakil dari provinsi lain se Indonesia. Saatnya bagi Persipal menapaki level kompetisi di Tanah Air. Publik Kota Palu berharap Persipal bermain bagus di Liga 3 Nasional nanti agar bisa promosi ke Liga 2 dan seterusnya sampai Liga 1, level tertinggi kompetisi sepak bola di Indonesia.
Begitu pula harapan Gubernur Sulawesi Tengah sekaligus Ketua Umum Persipal Rusdi Mastura yang tahu persis kejayaan Persipal era 70-an. “Eksistensi Persipal harus dikembalikan yang berjaya di kancah nasional,” kata Rusdi Mastura saat menyaksikan penyerahkan sumbangan dari PT Pembangunan Sulawesi Tengah sebesar Rp1,5 miliar untuk Persipal Palu, Jumat 30 Juli 2021 silam.
Semoga harapan Gubernur Sulteng dan masyarakat dapat terwujud bahwa suatu saat punya wakil yang berkompetisi di level tertinggi di liga sepak bola Indonesia.
*Catatan: Referensi tulisan ini adalah buku “Kaki Emas Persipal” karya Syamsuddin diterbitkan Institut Media Sulawesi tahun 2017 dan buku “Ramang Macan Bola, Kisah Pesepakbola Legendaris Indonesia dari Makassar” karya Dahlan Abubakar, diterbitkan Identitas Universi¬tas Hasanuuddin, Makassar tahun 2011. Red


















