Menjaga Situs Budaya Lesung Batu di Tongoa Lewat Edukasi

Sekolah alam jaga situs budaya lesung batu
Sekolah Alam Dongi-dongi. / Ist

ReferensiA.id- Yayasan Sekolah Alam Dongi-Dongi ambil peran strategis menjaga situs budaya megalitikum berupa lesung batu. Jejak peradaban manusia di masa lalu itu menjadi media pembelajaran.

Seperti yang dilakukan pada Senin, 17 Agustus 2026 lalu. Puluhan peserta didik Sekolah Alam Dongi-Dongi dibawa ke lokasi ditemukannya lesung batu untuk melihat dan mengamati secara langsung.

Kunjungan ini adalah bagian dari Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) bertema “Anak Hebat, Penjaga Warisan Budaya”.

Baca Juga:  Stenli Gilbert, Pendiri Sekolah Alam Dongidongi Diganjar Penghargaan dari Pemprov Sulteng

Sekolah Alam Dongi-Dongi terletak di Desa Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Letak lesung batu itu tak jauh dari sekolah, hanya sekitar 1 kilometer. Sedikitnya ada 8 lesung batu di kebun warga.

Arkeolog Dr Iksam Djorimi M Hum selaku narasumber mendampingi peserta didik sekaligus menjelaskan tentang lesung batu di lokasi. Anak tingkat sekolah dasar pun tampak antusias.

Founder Yayasan Sekolah Alam Dongi-Dongi, Stenli Gilbert SPd MPd, menjelaskan kegiatan ini anak-anak menjadi lebih mengenal budaya di lingkungannya, mengetahui cerita dan sejarah lesung batu, serta mulai memahami pentingnya menjaga warisan budaya yang ada di daerah mereka.

Baca Juga:  Stenli Gilbert Pendiri Sekolah Alam Dongi-Dongi Lolos Jadi Peserta PKPMN

Bagi Yayasan Sekolah Alam Dongi-Dongi, pengenalan budaya kepada anak-anak merupakan bagian penting dari upaya memperkuat pemajuan kebudayaan.

Generasi muda tidak hanya perlu mengetahui perkembangan zaman, tetapi juga perlu mengenal identitas dan warisan budaya yang menjadi bagian dari lingkungan mereka.

“Kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya menghadirkan pendidikan yang dekat dengan alam, budaya, dan kehidupan masyarakat,” jelas Stenli Gilbert.

Baca Juga:  Stenli Gilbert, Pendiri Sekolah Alam Dongidongi Diganjar Penghargaan dari Pemprov Sulteng

Selain workshop dan kunjungan ke situs, peserta juga mengikuti kegiatan kreatif berupa mewarnai yang dipandu oleh Riski Leonardi SAP.

Melalui aktivitas tersebut, anak-anak diajak mengenal budaya dengan pendekatan yang lebih menyenangkan dan sesuai dengan dunia mereka.

Dapatkan Update Berita Terbaru di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *