Saat berada di lokasi, Irsan Satria melihat langsung anak-anak pelajar SD Inpres Perumnas tengah sibuk membersihkan ruang belajar mereka.
Sisa-saia lumpur masih menempel tebal di beberapa ruang belajar.
Kepala SD Inpres Perumnas Sitti Utari Muh Tahir mengaku kejadian serupa sudah berulang sebanyak tiga kali.
Bahkan banjir terparah pernah terjadi pada 2020, saat itu air menggenangi ruang belajar hingga lebih tinggi dari lutut orang dewasa.
Saat itu sekolah bahkan mengalami kerugian hingga puluhan juta akibat sejumlah berkas dan komputer terendam banjir.
“Waktu itu buku sekitar anggaran 40 jutaan habis,” katanya.
Dia pun mengaku masih menunggu realisasi relokasi sekolah yang sudah hampir 5 tahun menempati lokasi sementara dan masih menggunakan Rukatara.
“Kita sudah dapat lahan untuk relokasi di rumah potong unggas, kita butuh percepatan,” ujar Kepala SD Perumnas itu.
Menurutnya, Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan (BP2P) Kementerian PUPR yang akan membangun kembali sekolah mereka di tempat relokasi menjanjikan proses pembangunan akan selesai pada Februari 2024.
“Semoga itu betul-betul tepat waktu sudah, karena Balai P2P sudah janji Februari 2024 selesai,” katanya.
Saat ini pihaknya pun sedang mengurus proses penerbitan IMB untuk bangunan sekolah yang baru nantinya.
Sementara soal banjir yang terjadi, pihak sekolah terpaksa meliburkan sementara siswa yang seharusnya sedang mengikuti ujian tengah semester.
Para pelajar yang datang ke sekolah dengan pakaian rapih bersih terpaksa harus disibukkan dengan aksi bersih-bersih pasca banjir.
“Selama ini, seperti inilah kondisinya. Mungkin anggaran atau apalah (sehingga proses relokasinya lama),” ungkap Sitti Utari.
Meskipun dengan kondisi sarana belajar yang masih seadanya, namun sekolah yang dipimpin oleh Sitti Utari itu punya prestasi gemilang. Mereka bahkan menyandang akreditasi A.



















