Di kegiatan ini nantinya pengunjung bisa belajar mengenal apa saja yang ada dipermukaan dan dibawah perut bumi yang berusia jutaan tahun lampau yang membentuk bumi kita saat ini.
Dalam kegiatan Karnaval, misalnya peserta karnaval adalah pelajar SD, SMP, SMA yang ada diwilayah sekeliling Danau Poso. Ini menjadi ruang untuk mengekspresikan keragaman hayati, tradisi budaya, dalam berbagai bentuk dengan menampilkannya di jalan Kota Tentena, start dari Taman Kota menuju lokasi festival di Yosi, Kelurahan Pamona.
Festival juga menghadirkan Modulu-dulu merupakan tradisi makan bersama warga desa di Kabupaten Poso khususnya di Lembah Bada. Saat Modulu-dulu, warga desa membawa makanan dari rumah masing-masing di tempat pertemuan / baruga desa.
Di Festival Mosintuwu, mari mendengarkan cerita rakyat melalui Molaolita. Molaolita merupakan cara orang Poso mendongeng atau menceritakan kisah , legenda, cerita rakyat dalam lantunan yang berbahasa Pamona.
Festival Mosintuwu mempersembahkan kembalinya Modero, sebagai tarian yang merawat pesan-pesan persahabatan dalam syair-syair yang indah.
Modero merupakan salah satu warisan tarian leluhur, dengan gerak melingkar, saling bergandengan tangan, dalam langkah dengan irama dua kali ke kanan dan satu kali ke kiri. Gerak tarian ini diiringi dengan gong dan gendang yang disertai nyanyian bersama dalam lingkaran dan lantunan kayori yang saling berbalasan.
Jika pengunjung ke lokasi festival akan menemukan adanya mini museum geologi.
Museum Mini Geologi akan berisi sejumlah sampel batu-batuan yang dikumpulkan selama penjelajahan di 24 titik situs warisan geologi.
Lewat sampel batuan ini, pengunjung bisa mengetahui bagaimana proses pembentukan bumi, pulau Sulawesi hingga bagaimana dan kapan Danau Poso terbentuk.



















