Komunitas Rumah Katu Lawan Narasi Intoleran Lewat Film

Komunitas Rumah Katu
Proses pembuatan film oleh Komunitas Rumah Katu. / Ist

“Cerita film diangkat dari hasil riset dan testimoni dari beberapa tokoh kunci yang pernah terpapar dan terlibat jaringan kelompok ekstremisme di Poso,” jelasnya, dikutip dari siaran pers, Rabu 8 Februari 2023.

Film yang diproduseri oleh Adriany Badrah juga sebagai manajer produksi dan disutradarai oleh Arifuddin Lako yang juga menulis naskah film (seorang mantan narapida teroris). Pemeran dalam film, di antaranya pernah terpapar dan terlibat aktif di kelompok MIT.

Film yang berjudul “KURIR” adalah film ke-5 yang diproduksi Komunitas Rumah Katu bekerja sama Adriany Badrah.

Film ini akan diputar tanpa menggunakan platform YouTube dengan metode pemutaran film dan diskusi film.

Hal ini dilakukan untuk mencegah penyalahgunaan film yang mengakibatkan konta-produktif dan salah mempersepsikan isi dari film.

Konsep pemutaran film dan diksusi film dikemas sebagai media pendidikan untuk mendorong kesadaran masyarakat mencegah penyebaran paham yang menjadi legitimasi ideologi dengan melakukan kekerasan, melawan narasi-narasi radikal-ekstremist, dan narasi-narasi intoleran.

Baca Juga:  Film "Mangrove Harapan dan Kehidupan" Serukan Pentingnya Kolaborasi Komunitas

Adriany menyatakan, bahwa seseorang belajar dari peniruan dan dari hasil pengamatan. Dalam hal ini, masyarakat mengkonsumsi film/video yang kemudian secara tidak langsung terjadi suatu pengamatan sehingga media yang cepat mempengaruhi sikap dan tindakan sesesorang salah satunya adalah media film atau audio visual.

Mengapa memilih mendistrubusikan informasi dan memberikan edukasi melalui media film untuk melawan narasi-narasi radikal-ekstremisme? Adriany menegaskan, karena media yang dekat dengan keseharian masyarakat adalah media sosial dan audio visual.

Baca Juga:  Cegah Paham Radikalisme di Lingkungan Polisi, Polda Sulteng Lakukan Sosialisasi

Sehingga, kata dia memilih film sebagai salah satu media komunikasi sosial. Secara khusus masih minimnya publikasi kampanye sebagai media pendidikan dengan menyajikan cerita realita yang diproyeksikan ke layar film, tentang bagaimana seseorang terpapar paham radikal-ekstremisme yang berbasis kekerasan. RED

Dapatkan Update Berita Terbaru di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *