Ketika kuliah S1, NSL adalah penerima beasiswa tunjangan ikatan dinas. Beasiswa itu menjaminnya mendapatkan jatah dosen setelah menyelesaikan studi.
Namun, setelah meraih gelar sarjana, lowongan dosen belum juga terbuka untuknya. Maka, NSL memilih bekerja di Bank Danamon. Ditempatkan di Kabupaten Poso, cabang yang baru dibuka saat itu. Karena itu, dia tahu bagaimana bekerja di bank dan bagaimana bank bekerja.
Jadi Dosen Untad
Selama bekerja di Poso, NSL tak merasa asing. Sebab, banyak keluarganya di sana. Poso adalah tanah kelahiran ayahnya.
Tak lama kemudian, lowongan dosen akhirnya terbuka. Dari Poso, dia kembali ke Palu. Dari pegawai bank beralih menjadi dosen di Fakultas Pertanian Universitas Tadulako.
Sebagai dosen, NSL menghabiskan hari-harinya dengan mentransfer ilmu pertanian kepada mahasiswanya di Universitas Tadulako. Selain itu, berjasa membangun sektor pertanian melalui riset. Pada saat yang sama dia juga menempuh pendidikan S2.
Jadi Caleg
Menjelang Pemilu 2019, NSL diperhadapkan pada dua pilihan: tetap menjadi dosen atau ikut Pemilu Legislatif 2019.
Jika memilih Pemilu, maka harus mengundurkan diri sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Begitu aturan mainnya. NSL pun sampai pada pilihan yakni mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Sulawesi Tengah.
Komisi Pemilihan Umum Sulawesi Tengah menetapkan NSL sebagai caleg Partai Nasdem di daerah pemilihan (dapil) Sigi dan Donggala. Bersaing dengan caleg dari partai lainnya, termasuk dengan caleg Nasdem di dapil yang sama.
Lantas mengapa lebih memilih mundur sebagai PNS? Pada sebuah diskusi virtual baru-baru ini, NSL mengatakan, sebagai akademisi ya itu tadi, hanya sebatas mentransfer ilmu kepada mahasiswa dan melakukan riset untuk memajukan pertanian.
“Tapi kalau di dunia (politik) ini bisa mengakomodir kepentingan banyak orang. Bukan hanya di dapil saya, tapi juga seluruh Sulteng. Misalnya satu kebijakan, satu tanda tangan, satu rekomendasi bisa membantu banyak orang. Itu kemanfaatan saya yang lebih luas,” katanya.



















