Jika dilihat dari rendahnya angka NPL tersebut, bisa disimpulkan tingkat kepatuhan debitur di Sulawesi Tengah masih tinggi.
Bukan hanya pada sektor perbankan, risiko kredit bermasalah di sektor pembiayaan non bank pun demikian.
Manager Area Sulawesi PT Astra Sedaya Finance atau Astra Credit Companies (ACC) Georgius Danang Krishantoro, mengakui hal itu.
Meski tidak menyebut angka NPL pada perusahaan pembiayaan yang berfokus pada kendaraan roda empat dan alat berat tersebut, Georgius Danang Krishantoro bilang NPL debitur ACC Palu sangat rendah.
“NPL di palu ini salah satu termasuk terbaik di Indonesia, sangat rendah. Itu harus kita akui,” ujarnya yang juga hadir dalam kegiatan Jurnalis Update yang digelar oleh OJK Sulteng.
Meski begitu, dia tidak menampik adanya sejumlah debitur bermasalah yang menyebabkan pihak perusahaan pembiayaan terpaksa harus menarik objek pembiayaan dari nasabah.
Penarikan objek pembiayaan dilakukan lantaran debitur dianggap melakukan wanprestasi, termasuk di antaranya debitur lalai tanpa pemberitahuan kepada pihak perusahaan pembiayaan, serta objek pembiayaan yang telah dipindahtangankan oleh debitur.
Dia menyarankan agar nasabah atau debitur yang terkendala pembayaran (angsuran) kredit sebaiknya menyampaikan permasalahannya ke pihak perusahaan pembiayaan agar ditemukan solusi bersama.
Dia mencontohkan pada saat terjadi bencana gempa bumi, tsunami dan likuefaksi di Kota Palu pada 2018, di mana saat itu pihak ACC Palu memberikan keringanan kepada banyak debiturnya.
“Di Kota Palu pada saat gempa kita tidak pernah narik (objek pembiayaan), bahkan kita datangi nasabah kita kasih (fasilitas) restrukturisasi,” tandasnya. RED



















