“Sosialisasi dan edukasi ke masyarakat. Jadi tidak ada lagi penolakan untuk dilakukan skrining hipotiroid kongenital,” ujarnya.
Cakupan skrining bayi baru lahir di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan dengan negara Asean lainnya.
Adapun target skrining hipotiroid kongenital tahun 2022 sebanyak 430 ribu anak.
Saat ini, baru 4 laboratorium rujukan SHK yakni RSUP dr Cipto Mangunkosumo yang melayani 18 provinsi, RSUP dr Hasan Sadikin (14 provinsi), RSUP dr Sardjito (DI Yogyakarta) dan RSUD dr Soetomo (Jawa Timur).
Namun, ke depan akan dikembangkan di beberapa rumah sakit RSUP dr Wahidin Soedirohusodo, RSUP dr M Djamil, RSUP H Adam Malik, RSUP M Hoesin, RSUP dr Kariadi, RSUP Sanglah, dan RSUP Kandow.
Sementara itu, Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, (K), FAAP, FRCPI (Hon.) pada kegiatan itu mengungkapkan data-data tentang anak yang terlambat didiagnosis dan diterapi.
Dia bilang, dari data menunjukkan anak hipotiroid kongenital yang didiagnosis dan diterapi antara umur 0-3 bulan, IQ anak yang di atas 85, ada 87%.
Namun, bila 3-6 bulan, IQ 85 hanya 19% dan bila diterapi setelah 7 bulan yang bisa IQ 85, tidak ada atau 0%.
“Gejala sangat ringan jika diterapi dalam usia 14 hari pertama (setelah lahir). Atau bahkan tidak ada gejala sama sekali. Jadi skrining ini sangat penting,” pesan Aman Pulungan.
Bagaimana jika anak diterapi setelah berumur 1 bulan? Aman Pulungan, dokter spesialis anak ini mengatakan, hasil riset terhadap 25 anak yang mengalami hipotiroid kongenital dan telah dipublikasikan pada 2019 silam.
Hasil riset tersebut menunjukkan, mayoritas anak di atas 1 bulan saat didiagnosis dan diterapi, 96 persen menderita keterlambangan perkembangan, 72 persen disabilitas intelektual, dan sebagian besar IQ di bawah 70.
“Nilai IQ ini sangat berhubungan dengan usia (saat mulai) pemberian terapi. Sangat penting, anak yang hipotiroid kongenital harus terapi lebih awal,” terangnya. RED



















