Selain di Hotel Santika, di 46 kelurahan di Kota Palu juga akan dilakukan simulasi kedaruratan oleh komunitas yang telah dilatih sebelumnya. BPBD Palu telah menyampaikan kepada pemerintah kelurahan dan kecamatan mengenai rencana pelaksanaan simulasi ini.
Alat-alat seperti lonceng atau kentongan dibunyikan sebagai tanda bahaya. Bagi kelurahan di pesisir pantai akan menggunakan skenario simulasi tsunami. Ada 17 titik blue zona tersebar di kelurahan yang telah ditetapkan sebagai titik kumpul aman jika tsunami menerjang.
Sedangkan di kelurahan lainnya di luar pesisir pantai menggunakan skenario gempa. Begitu juga di kantor pemerintahan. Oleh karena itu, saat simulasi akan dilakukan evakuasi ke tempat yang aman dari potensi bahaya misalnya ke tanah lapang untuk menghindari bangunan rawan rubuh. “Ada komunitas yang sudah kita latih di kelurahan,” kata Fresly.
Berbeda dengan kelurahan yang rawan likuefaksi. Meskipun ada pengalaman likuefaksi di Kelurahan Balaroa dan Petobo, namun sampai saat ini, BPBD Palu belum memiliki format standar untuk evakuasi. Saat ini hanya mengacu pada peta micro zonasi yang disusun pascabencana 28 September 2018 silam. “Rawan likuefaksi harus dipelajari dulu. Harus kajian dulu,” katanya.
Dia menjelaskan, simulasi ini dilaksanakan untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana seperti gempa bumi yang tidak diketahui kapan terjadinya. Apalagi, Palu termasuk kota dengan kategori indeks risiko bencana yang tinggi. Pada 2015 indeks risiko bencana Kota Palu 181,2. Kemudian pada 2017 turun menjadi 149. Tetapi naik lagi pada tahun 2020 menjadi 160,27.
Oleh karena itu, dibutuhkan mitigasi berbasis kultural selain yang struktural. Mitigasi kultural dilakukan dengan terus mengedukasi masyarakat bagaimana bertindak tepat dan cepat jika terjadi bencana.



















