Meskipun biayanya jauh lebih mahal, namun bagi manajemen PT Vale, keberlangsungan jauh lebih penting dari sekadar menghasilkan profit yang besar namun mengancam keberlangsungan masa depan.
Penerapan teknologi juga berlaku pada limbah cair. PT Vale memanfaatkan teknologi agar limbah cair dari aktivitas perusahaan pertambangan itu tidak mencemari lingkungan.

Perusahaan yang sudah 54 tahun berdiri ini berkomitmen mengolah limbah cair hingga memenuhi baku mutu sebelum dialirkan kembali ke badan air.
PT Vale memiliki sejumlah fasilitas pengolahan limbah cair, di antaranya ada Lamella Gravity Settler (LGS). LGS ini dimanfaatkan untuk mengurai dan mengendapkan limbah cair hingga memenuhi baku mutu sebelum disalurkan kembali, khususnya ke Danau Matano dan Danau Mahalona.
Lalu bagaimana dengan lahan untuk menambang material nikel? Seperti lokasi pertambangan pada umumnya, pepohonan ditebang, tanah dikeruk dan meninggalkan lahan luas yang tampak tandus.
Di lokasi penambangan nikel milik PT Vale, lahan tandus bekas penambangan itu segera dihijauhkan kembali. Sehingga di bekas-bekas penambangan PT Vale juga terlihat banyak tutupan lahan yang tampak berusia remaja.
Sementara sisanya, lahan yang masih tampak kehilangan hutannya dan membentuk ceruk dengan kedalaman rata-rata hingga 40 meter ditimbun menggunakan material buangan, sebelum kemudian akan kembali dihijauhkan oleh PT Vale.
Berdasarkan data, total bukaan lahan di kawasan PT Vale hingga Juli 2022 seluas 5.376,5 hektare. Sementara total lahan yang telah direklamasi hingga Juli 2022 seluas 3.338,61 hektare.
Perseroan dibantu oleh kontraktor berencana mereklamasi seluas 293,44 hektare untuk 2022. Realisasi reklamasi tahun ini sudah mencapai 119,25 hektare. Perseroan harus menggelontorkan anggaran senilai Rp350 juta per hektare lahan.



















