“Sering diajak main di tim seniornya juga kalau di Galara, biasanya kalau timnya sudah menang baru dia dimasukkan,” ungkap bapak tiga anak itu.
Selain jago di lapangan hijau, ternyata sosok Witan merupakan pelajar yang berprestasi di sekolah. “Nilai mata pelajarannya itu diatas rata rata,” ungkap Arsid Nurdin Kepala Sekolah SMPN 2 Palu, tempat Witan menempuh pendidikan menengah pertama.
“Sejak SD Witan tidak pernah lepas dari sepuluh besar, paling sering peringkat enam atau tiga,” kata Humaidi bercerita soal prestasi pendidikan anaknya.
Namun ia memilih karier sepak bola. Buktinya, sang ayah terus memberikan dukungan agar Witan bisa lebih giat berlatih dan menjadi pesepak bola profesional.
Witan Sulaeman Lolos Timnas U14
Buah proses, usaha dan dukungan orang tua akhirnya mulai dipetik oleh Witan Sulaeman. Pada akhir 2014, pintu perjalanan kariernya di dunia sepak bola mulai terbuka.
Waktu itu, salah satu pelajar asal Kota Palu berhasil lolos seleksi Tim Nasional Under 14 (Timnas U14) putaran kedua. Ialah Witan Sulaeman. Putra dari pasangan Humaidi dan Nurhayati.
Anak penjual sayur berumur 13 tahun yang sejak kecil punya cita-cita ingin jadi salah satu pemain sepak bola senior di timnas Indonesia, mulai menggapai mimpinya.
Impian kecil pelajar kelas IIX di SMP Negeri 2 Palu ini akan tercapai. Ia telah bergabung dengan timnas muda U14 sebagai perwakilan Sulawesi Tengah (Sulteng). Anak kedua dari tiga bersaudara itu berhasil lolos seleksi yang diikuti 200 pemain. Kebetulan hanya Witan yang posisinya dibutuhkan Timnas remaja saat itu.
Jadi Andalan Timnas
Karier sepak bola Witan sejak bergabung Timnas U14 semakin jelas arahnya. Dia mulai dilirik sepak bola nasional.
Pada periode 2016–2019 Witan mengasah kemampuan di Sekolah Atlet Ragunan. Ia lalu bergabung dengan klub sepak bola PSIM Yogyakarta. Periode 2020-2021 Ia membela klub Eropa Radnik Surdulica, lalu pindah ke Lechia Gdansk.



















