Direktur Walhi Sulteng Sebut Pesisir Palu-Donggala Dibayangi Bencana Ekologis 

Walhi Sulteng
Ilustrasi

ReferensiA.id- Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulawesi Tengah (Sulteng) menyebut ancaman bencana ekologis tengah membayang-bayangi sejumlah wilayah di daerah ini.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Walhi Sulteng, Wiwin Matindas, menyikapi banyaknya bencana ekologis di Tanah Air belakangan ini.

“Walhi Sulawesi Tengah menyampaikan duka mendalam dan solidaritas penuh kepada seluruh rakyat di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh yang saat ini menghadapi bencana ekologis akibat banjir besar, longsor, dan kerusakan ekosistem wilayah hidup yang meluas menyebabkan korban jiwa pertanggal 25 – 27 November lalu, 442 orang meninggal, 402 orang hilang, 156.918 orang mengungsi ” kata dia mengawali keterangannya, Rabu 3 Desember 2025.

Baca Juga:  Banjir Berulang di Morowali Diduga Akibat Tambang, Walhi Dorong Pemerintah Evaluasi Izin Pertambangan

Menurut Wiwin, bencana ini bukan peristiwa alam, melainkan akumulasi dari kebijakan keliru, ekspansi industri ekstraktif, dan pembiaran terhadap kerusakan lingkungan selama bertahun-tahun.

“Bencana ekologis peringatan keras di Indonesia berada di titik kritis. Tinggal menunggu waktu dengan pola ekspoitasi yang masif  di Sulawesi Tengah dengan total bukaan 8.356,70 Hektar data SIMONTINI tahun 2024 melalui deforestasi, perampasan ruang hidup, dari Proyek Strategis Nasional (PSN) seperti Industri nikel, pertambangan, perkebunan sawit skala besar, dan kawasan pangan nusantara,” kata Wiwin yang baru terpilih sebagi Direktur Walhi Sulteng.

Baca Juga:  Walhi Sulteng Dukung Aksi Penolakan Warga Napu Terhadap PETI
Walhi Sulteng
Wiwin Matindas

Dia bilang, jika pola ini terus dibiarkan, maka tragedi serupa akan terjadi di berbagai wilayah. Menurut Direktur Walhi itu, Sulawesi Tengah adalah contoh nyata. Di sepanjang pesisir Palu – Donggala, setiap musim hujan masyarakat di Kelurahan Loli, Watusampu, dan Buluri merasakan dampaknya. Jalan nasional tergenang banjir, air bercampur material galian C menutupi ruas jalan, mengganggu pengguna jalan, dan memperlihatkan betapa daya dukung serta daya tampung lingkungan telah hilang.

Dapatkan Update Berita Terbaru di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *