“Kami kerja sama dengan beberapa organisasi melakukan aksi menolak sampah plastik,” katanya.
Gerakan-gerakan itu dilakukan anak-anak muda ini lantaran kepedulian mereka terhadap dampak krisis iklim yang berpengaruh ke kehidupan di lingkungan mereka.
Riziq misalnya, dia sudah merasakan bagaimana lingkungannya diterjang banjir bandang, yang dianggap merupakan salah satu dampak dari krisis iklim.
Salah satu pengalaman itu pula yang bakal dibagikan kepada perwakilan negara G7.
“Kami akan sampaikan bagaimana kami merasakan banjir. Harapannya bagaimana pemerintah juga melibatkan kami sebagai anak saat mengambil kebijakan. Untuk mengurangi banjir. Kami sebagai anak di Sulawesi Tengah merasakan langsung (dampak banjir) terhadap krisis pangan,” kata Riziq.
“Kami akan berdialog soal krisis iklim, khususnya di Sulteng. Kami juga akan memperkenalkan gerakan aksi generasi iklim ini ke pemerintah,” jelasnya.
Kedua anak itu akan bergabung dengan Child Campaigner lainnya dari perwakilan masing-masing provinsi dan melakukan pertemuan dengan perwakilan negara G7 pada 26-30 Oktober 2022 mendatang di Jakarta. RED



















