Saat ini, Nasdem memang terus memperkuat struktur internal dengan terus berkonsolidasi menjelang Pemilu 2024.
“Berbeda dengan PDIP yang dikenal dengan pemilih ideologi wong cilik, Golkar dengan kekuasaan yang begitu panjang, PKS dengan jejaring kader begitu kuat. Kemudian PKB dengan dukungan Nahdlatul Ulama. Berbeda dengan Nasdem. Itu saya sadar,” ujarnya.
Menurutnya, jika ingin mewujudkan minimal pemenang ketiga pada 2024, maka kekuatan internal dengan membangun mesin pemenangan lewat struktur partai. Dia bilang, sampai 2022 ini sudah harus terbentuk kepengurusan sampai Dewan Pimpinan Ranting (DPRt) di seluruh desa. Strategi lain tentu saja komposisi caleg.
Mengapa Ahmad Ali tidak mencalonkan diri di Sulawesi Tengah? “Secara pribadi saya melihat bahwa idealnya sebagai anggota DPR itu cukup 10 tahun untuk mengabdi”.
Menurutnya, semangat pengabdian akan menurun setelah dua periode di DPR. Jika semangat menurun, maka yang dirugikan adalah masyarakat yang diwakili.
“Bagi saya, dua periode adalah waktu yang sangat ideal. Sehingga saya memutuskan di 2024 saya tidak akan maju lagi sebagai calon anggota legislatif dari Sulawesi Tengah,” tegasnya mengulang pernyataan.
Dia tidak sedang berbicara atau menyinggung orang lain, anggota DPR yang sudah begitu lama di DPR. Sebab, soal dua periode itu adalah pendapat atau alasan pribadi Ahmad Ali tidak mencalonkan diri.
Apakah maju sebagai calon gubernur? Respons berbeda saat pertanyaan itu diajukan oleh host. Jika sebelumnya tegas tidak jadi caleg DPR RI dapil Sulteng pada Pemilu 2024, Ahmad Ali kali ini tidak memberikan jawaban pasti.
Perlu diingat bahwa pada Pilgub 2015, Ahmad Ali masuk dalam bursa calon gubernur Sulawesi Tengah. Namun akhirnya batal. Alasannya ingin mengabdi dan fokus di DPR RI. Sedangkan pada Pilgub 2020, Nasdem mencalokan Rusdy Mastura-Ma’mun Amir. Saat itu Nasdem berkoalisi bersama beberap partai yakni Perindo, Golkar, Hanura, PKB, PPP, PAN, Demokrat dan PKS.



















