Sejak saat itu, dari Agustus 2016, perjalanan Kadek di Humas Polresta Palu mengalir tanpa henti. Ia mengirimkan siaran pers, mendampingi pimpinan, menjawab pertanyaan awak media dan mengisi ruang publik dengan informasi yang jernih.
Sepuluh tahun berjalan, ia seakan menegaskan satu hal, bahwa menjadi polisi bukan hanya soal seragam dan pangkat, tetapi juga tentang merawat kepercayaan masyarakat dengan kata-kata yang tulus. Kadek berdiri hari ini lebih tegak dari sebelumnya—sebagai suara yang menjaga harmoni antara kepolisian dan rakyat.
Kini, di tengah pengabdiannya, I Kadek Aruna sedang menempuh ujian seleksi Alih Golongan (PAG). Sebuah fase penting yang selayaknya membuka jalan baginya menuju jenjang karier lebih tinggi.
Sosok yang selama ini menjadi ujung tombak komunikasi Polresta Palu layak diprioritaskan, sebab ia telah membuktikan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal jabatan, melainkan juga konsistensi melayani.
Perannya pun semakin terasa dalam menciptakan kondisi kondusif di Palu. Melalui pemberitaan Humas Polresta Palu, Kadek menghadirkan informasi yang sejuk, menjaga suasana tetap aman, bahkan saat Pilkada 2024 berlangsung.
Tak hanya itu, media sosial resmi Humas Polresta Palu yang dipandunya juga berperan proaktif di ruang digital, menyejukkan para demonstran, mendorong mereka tetap tertib saat menyuarakan kritik. Buktinya, aksi besar pada 1 September lalu berjalan dengan aman, damai dan penuh keteraturan.
“Yang agak berat itu melawan informasi hoaks. Sebagai Humas, tugas kami bukan cuma menyampaikan pernyataan atasan, tapi bagaimana informasi yang tersampaikan bisa diterima dengan baik dan tidak menjadi informasi yang keliru di tengah masyarakat,” katanya.
Sepuluh tahun sudah ia menjaga suara publik. Dan barangkali, perjalanan Aiptu Kadek Aruna adalah pengingat bahwa kata-kata, bila diucapkan dengan tulus, dapat menjadi penopang utama keamanan dan kepercayaan di tengah masyarakat. ***



















