Wajah-wajah penuh semangat belajar berubah jadi muram. Mereka kesal, sedih tapi tak mampu berbicara. Materi yang begitu ditunggu-tunggu tak bisa dilanjutkan. Padahal sedari masuk ruangan, siswa-siswi berbisik penasaran melihat manekin yang di pajang di depan. Ada juga beberapa alat balut luka yang tersusun rapi.
Mereka terdiam bersama manekin dan alat peraga lain. Mereka takut karena aksi pembubaran paksa itu.
Sekelompok orang yang masuk tidak peduli dengan peserta. Sikap arogansi disaksikan ratusan anak-anak di bawah umur.
“Kau komunis! PKI! Kehadiranmu menganggu masyarakat karena mau melakukan provokasi,” hardik salah satu perwakilan kelompok tersebut.
Bahkan dengan lantangnya, seorang pria berpakaian hijau memakai topi hitam melancarkan ujaran kebencian agar peserta yang hadir di lokasi menyerang penyelenggara kegiatan, PT Vale. “Siapa kepala sekolahnya ini? Adik-adik harus tahu PT Vale merusak tanah orang tuamu. Saya tidak mau bertanggungjawab kalau ada kejadian,” ungkapnya.
Mendengar ini, para siswa terlihat ketakutan bahkan menangis mendengar sahutan kebencian yang menyerang PT Vale. Dalam sekejap, ruang belajar disulap jadi ajang demonstrasi.
Di tengah kekacauan, tim PT Vale berusaha menerima massa dengan baik dan menjelaskan tujuan kegiatan murni untuk berbagi edukasi karena keselamatan adalah yang terpenting. Tapi, massa terus berteriak “Bubarkan kegiatan!”
Siswa-siswi diminta berdiri dan keluar ruangan meninggalkan kegiatan.
Salah seorang peserta yang enggan disebutkan namanya untuk alasan keselamatannya mengaku kaget, trauma atas kejadian tersebut. “Saya takut, tiba-tiba masuk berteriak padahal kami hanya mau ikut sosilaisasi safety riding. Kami kasian sama PT Vale karena kegiatannya dihentikan dan disuruh pulang” tuturnya. Saking takutnya, Ia bercerita mereka kembali di sekolah dan lanjut menangis.



















