ReferensiA.id- Stenli Gilbert kembali membawa nama Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah ke panggung nasional. Pemuda ini diusulkan sebagai calon penerima Kalpataru 2026, sebuah penghargaan lingkungan tertinggi di Indonesia.
Seperti apa kiprahnya? Stenli Gilbert SPd MPd adalah pendiri Sekolah Alam Dongi-Dongi di Desa Tongoa Kecamatan Palolo, Sigi, Sulawesi Tengah pada 2015 silam.
Dia diusulkan sebagai calon penerima Kalpataru 2026 karena dianggap berkontribusi besar dalam pelestarian lingkungan hidup dan kehutanan.
Sejak mendidikan Sekolah Alam Dongi-Dongi, Stenli konsisten pada misinya yakni menanamkan jiwa peduli lingkungan dan hutan. Semangat itu bukan hanya ditularkan kepada siswa siswinya, ketulusan Sang Guru Generasi Hijau dalam mendidik dan menjaga Bumi juga menyentuh dan menggerakkan masyarakat lokal.
Dibantu sejumlah relawan dari berbagai kalangan, dia membangun paradigma masyarakat mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekologi.
Ini adalah langkah kecil menyelamatkan lingkungan mengingat masyarakat lokal bersentuhan langsung dengan hutan.
Atas dedikasinya itu, pada 2021 Stenli menerima piagam penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
KLHK menilai Stenli melalui Sekolah Alam Dongi-Dongi telah membangun sinergi dan komitmen dalam pengembangan pendidikan cinta alam bagi generasi muda di sekitar kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL). Sekolah Alam Dongi-Dongi memang berada di sekitar TNLL yang diakui UNESCO sebagai cagar biosfer.
Kiprah Stenli Gilbert melalui Sekolah Alam Dongi-Dongi mendorong Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sigi mengusulkannya sebagai calon penerima Kalpataru 2026. Dia telah diminta oleh DLH untuk melengkapi syarat.
Pengusulan itu tak lepas rekam jejaknya melalui Sekolah Alam Dongi-Dongi yang didirikannya. Satuan pendidikan ini menjadi bukti dedikasi Stenli dalam menciptakan sistem pendidikan formal yang menyatu dengan alam.















