Cerita Mahasiswa PMM di Untad, Belajar Tarian Mokambu Hingga Ragam Kuliner

Mahasiswa PMM di Untad
Mahasiswa peserta PPM 2021 di Untad Palu, Yokanang Chandra Arfiansyah. / Kemendikbud.go.id

ReferensiA.id- Yokanang Chandra Arfiansyah menceritakan ragam pengalamannya menjadi peserta program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) di Universitas Tadulako (Untad) Palu.

Ia mengaku gembira atas pengalaman sebagai mahasiswa PMM di Untad untuk tahun 2021 yang telah dilaluinya seperti belajar tarian mokambu hingga mengenal ragam kuliner Sulawesi Tengah.

Yokanang adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam asal Universitas Negeri Sebelas Maret, Jawa Tengah yang telah menjalani PMM tahun 2021 di Universitas Tadulako, Sulawesi Tengah.

“Saya bertemu rekan-rekan mahasiswa dari seluruh penjuru Nusantara yang sangat menyambut baik. Di Universitas Tadulako, kami jadi sahabat di dalam dan luar kelas. Kebersamaan dengan teman-teman satu asrama juga sangat terasa. Saya belajar beragam budaya, misalnya tarian mokambu. Sulawesi Tengah juga punya alam yang kaya, seperti Laut Donggala, dan peninggalan sejarah seperti situs megalitikum tertua di Indonesia yaitu Lore Lindu,” tutur Yoka Yoka saat berbicara pada acara Sosialisasi Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan ke-2 pada Tahun 2022 (PMM 2) secara daring, Rabu 11 Mei 2022 seperti dikutip laman resmi Kemmendikbudristek.

Sosialisasi dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek).

Yoka mengakui, dirinya jadi berani keluar dari zona nyaman untuk mengeksplorasi masa muda setelah menjalani PMM.

“Saya jadi mengeksplorasi diri dalam masa muda ini, belajar jadi pemimpin, belajar lebih terbuka, dan mengasah toleransi dalam bingkai persatuan Indonesia. Karena Indonesia sangat beragam, kami memahami dan saling menghargai kebudayaan yang berbeda,” ucap Yoka.

Ia menambahkan, saat sedang menjalani PMM, penting untuk menjalin relasi antarmahasiswa dan masyarakat secara luas. Tak hanya kenangan akademis, persahabatan dan kekayaan budaya Yoka mengaku dirinya juga mengalami pertukaran kuliner.

Dapatkan Update Berita Terbaru di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *