Iklan HUT korpri

Dosen FISIP Untad Ingatkan Mahasiswa Terkait Masalah Besar di Pemilu 2024

Pemilu 2024
Dosen FISIP Untad, Dr Muhammad Nur Alamsyah, SIP, MSi saat menjadi pembicara pada diskusi kepemiluan di Media Center Universitas Tadulako (Untad) Palu, Rabu 12 Oktober 2022. / ReferensiA.id

ReferensiA.id- Beberapa masalah besar yang akan dihadapi pada Pemilu 2024. Masalah itu adalah clientelisme, patronage, oligarki, ketahanan finansial partai politik, populisme yang mendominasi, politik identitas, hingga masalah golput.

Begitu pendapat yang dikemukakan Dr Muhammad Nur Alamsyah, SIP, MSi saat menjadi pembicara pada diskusi kepemiluan di Media Center Universitas Tadulako (Untad) Palu, Rabu 12 Oktober 2022. Dosen FISIP Untad ini berbicara di hadapan puluhan mahasiswa Untad Palu.

Baca Juga:  KPU Sulteng Tetap Lakukan Verifikasi Faktual Partai Buruh Meski Bendahara Pergi Acara Pesta

Nur Alamsyah adalah doktor Ilmu Politik, Lektor Kepala di Program Studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Untad.

Dua pembicara lainnya dalam diskusi itu adalah Dr Mohammad Irfan Mufti MSi, dosen Ilmu Administrasi Publik FISIP Untad dan Naharuddin, Komisioner KPU Sulteng.

“Pemilu kita menghadapi masalah besar. Kita diperhadapkan pada clientelisme, sistem patronage, dan sistem oligarki,” ujar Nur Alamsyah pada diskusi yang mengangkat tema penting tentang sistem pemilu terhadap partisipasi dalam Pemilu 2024.

Baca Juga:  Hari Pertama Pendaftar PPK Capai 788 Orang di Sulteng, Parimo Terbanyak

Menurut Nur Alamsyah clientelisme tidak salah jika ditempatkan dalam porsi yang seharusnya yakni pada dimensi sosial budaya seperti saling tolong-menolong dan bergotong royong.

“Makanya perlu mendapatkan wawasan baru bahwa dalam urusan kepemiluan kita, harus punya arah sendiri,” ujar dosen muda yang menyelesaikan studi S3 di Universitas Indonesia.

Nur Alamsyah mengutip Martin Shefter (1994) bahwa negara yang membangun birokrasi yang otonom dan terinstitusionalisasi dengan baik sebelum kedatangan demokrasi massa/ populisme lebih mungkin menghindari politik clientelistik.