Selain investasi, pendidikan, dan teknologi kesehatan, Dhandy turut menyoroti sektor energi, khususnya kebutuhan pasokan listrik yang menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pembangunan daerah dan pertumbuhan industri.
Ia menyebutkan, Sulawesi Tengah masih menghadapi persoalan defisit listrik yang diperkirakan mencapai 160 megawatt. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu menjadi perhatian bersama agar kebutuhan energi dapat terpenuhi seiring dengan perkembangan investasi dan aktivitas ekonomi di daerah.
Dalam konteks tersebut, ia menilai peluang pertukaran informasi dan pengenalan teknologi energi dari Rusia dapat menjadi salah satu hal yang dijajaki, termasuk teknologi pembangkit listrik sebagaimana pemaparan dari salah satu perusahaan pembangkit listrik milik negara Rusia tersebut
“Meski demikian, setiap peluang kerja sama di sektor energi perlu dikaji secara komprehensif dengan mempertimbangkan aspek keselamatan, kelayakan teknis dan ekonomi, dampak lingkungan, regulasi, serta kebutuhan energi Sulawesi Tengah,” katanya.
Dhandy berharap, peluang kerja sama yang dijajaki melalui kunjungan tersebut dapat ditindaklanjuti dalam bentuk pembahasan yang lebih konkret antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan pihak-pihak terkait.
Dhandy juga menegaskan, hubungan baik yang terjalin melalui kunjungan tersebut diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat Sulawesi Tengah, khususnya dalam mendukung pembangunan daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Harapan kita, kunjungan ini tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dapat ditindaklanjuti dengan komunikasi dan pembahasan yang lebih konkret, sehingga peluang kerja sama yang ada benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat Sulawesi Tengah,” harapnya. ***



















